<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>writing culture</title>
	<atom:link href="http://matatita.net/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://matatita.net</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 06:05:48 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Menyusur Benteng Kraton Buton</title>
		<link>http://matatita.net/?p=170</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=170#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 10:01:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[heritage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Saya terpana menyaksikan tumpukan batu hitam yang menjulang tinggi, seperti tebing yang membentengi jalan kota. Itulah benteng kraton Buton, di kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara. Benteng terkokoh dan terpanjang yang pernah saya lihat.
Benteng yang dibangun oleh Sultan Buton III pada abad ke-16 itu mulanya memang hanya berupa tumpukan batu hitam untuk memagari kraton, sebagai pembatas antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya terpana menyaksikan tumpukan batu hitam yang menjulang tinggi, seperti tebing yang membentengi jalan kota. Itulah benteng kraton Buton, di kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara. Benteng terkokoh dan terpanjang yang pernah saya lihat.</p>
<p>Benteng yang dibangun oleh Sultan Buton III pada abad ke-16 itu mulanya memang hanya berupa tumpukan batu hitam untuk memagari kraton, sebagai pembatas antara kompleks istana dengan perkampungan warga. Ketika Sultan Buton IV memerintah, tumpukan batu tersebut dibuat lebih permanen dan difungsikan sebagai benteng pertahanan, untuk menghindari serangan musuh.</p>
<p>Saking kokohnya, benteng kraton Buton yang kini berusia lebih dari 500 tahun itu masih terjaga utuh di atas tanah seluas 23.375 hektar. Benteng itu mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record pada bulan November 2006 yang mencatatnya sebagai benteng terbesar di dunia. Waw!</p>
<p>Saya beruntung menemukan penginapan di atas bukit milik Pak Kasim yang untuk menuju ke sana harus melewati benteng dan kompleks kraton. Bahkan, persis di bawah pavilun yang saya tempati ada tumpukan bata hitam yang merupakan pembatas antara kompleks kraton dengan perkampungan yang dibangun pada abad ke-16.</p>
<p>Pagi-pagi sekali saya menyempatkan walking tour menuruni bukit, menyusur kompleks kraton. Kawasan ini cukup tenang, rumah-rumah penduduk belum terlalu padat dan kendaran yang melintas pun tidak banyak. Bahkan bisa dibilang jarang, kecuali kendaraan warga setempat dan beberapa ojek yang lewat. Angkutan umum bisa dihitung pake jari saking jarangnya. Biasanya angkot hanya lewat pagi-pagi mengangkut orang yang akan berbelanja ke bawah, ke pasar Bau-bau. Sedangkan angkot dari bawah yang akan naik ke atas harus nunggu penuh dulu, sehingga orang lebih memilih naik ojek.</p>
<p>Setelah beberapa saat berjalan saya menemukan benteng bagian belakang yang dibelah oleh jalan. Di atas jalan itu kemudian dibangun atap kayu, mirip pos ronda, yang bisa dipakai nongkrong, duduk-duduk. Ada undakan di sisi kanan kirinya, sehingga saya bisa menaikinya dan mengaso sebentar sambil menikmati keindahan sisa-sisa kraton Buton.</p>
<p>Benteng bagian belakang itu tingginya hanya sekitar 2 meter, nggak setinggi benteng di bagian depan yang pertama terlihat saat meluncur dari arah kota Bau-bau. Lebar bagian atasnya hanya sekitar 50 cm sehingga tidak memungkinkan untuk dilewati. Namun ada bagian-bagian tertentu yang lebih lebar dan menjorok untuk menempatkan beberapa meriam.</p>
<p>Tak jauh dari benteng berjejer rumah penduduk. Tapi nggak menempel pada benteng seperti yang terjadi di Jogja. Rumah pemukiman warga itu berada di seberang benteng, dibatasi oleh jalan. (to be continued&#8230;.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=170</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>frog legs cuisine</title>
		<link>http://matatita.net/?p=165</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=165#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 12:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[culinary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian dari masa kanak-kanak saya pernah saya lalui di daerah yang dikenal dengan menu kodoknya, Swikee Purwodadi. Saking populernya masakan itu, sampai-sampai nyaris tak bisa dipisahkan antara nama masakan swikee dan nama kota Purwodadi. Buktinya hampir semua rumah makan yang menjual menu swikee tak pernah meninggalkan nama Purwodadi di belakangnya. Bahkan, di Purwodadi sendiri ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian dari masa kanak-kanak saya pernah saya lalui di daerah yang dikenal dengan menu kodoknya, Swikee Purwodadi. Saking populernya masakan itu, sampai-sampai nyaris tak bisa dipisahkan antara nama masakan swikee dan nama kota Purwodadi. Buktinya hampir semua rumah makan yang menjual menu swikee tak pernah meninggalkan nama Purwodadi di belakangnya. Bahkan, di Purwodadi sendiri ada beberapa warung swikee yang tetap menyertakan nama Purwodadi di belakangnya.</p>
<p>Purwodadi (Kab. Grobogan) adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang berjarak sekitar 60 km arah Timur dari kota Semarang atau arah utara dari kota Solo. Daerah yang diapit dua pegunungan kapur yaitu Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Kapur Utara ini nyaris tak memiliki potensi daerah yang bisa diandalkan dibanding kabupaten lain di wilayah Jawa Tengah. Beruntunglah di daerah minus ini masih ada sejumlah warga terampil yang mampu meracik hidangan kuliner paha kodok hingga kawentar ke penjuru tanah air bahkan seantero jagat karena Wikipedia.com versi English menyebutkan bahwa &#8220;swikee has identified as a traditional food of Purwodadi Grobogan&#8221;.</p>
<p>Swikee atau sweekee merupakan salah satu jenis masakan Cina. Masakan yang dapat dikelompokkan dalam jenis sup ini berbahan dasar paha kodok ijo (kodok sawah) dengan kuah berwana coklat, berasa manis kedelei perpaduan antara taoco dan kecap. Sebagai penyedap ditaburkan irisan bawang goreng dan seledri.</p>
<p>Meskipun merupakan masakan Cina, namun kadang-kadang nama swikee tidak selalu terncantum dalam daftar menu restoran Cina (chinese Food). Biasanya mereka menggunakan istilah kodok kuah, mungkin biar senada dengan menu masakan paha kodok lainnya seperti: kodok goreng tepung, kodok goreng mentega, kodok goreng kecap, kodok saus tomat, kodok saus tiram, kodok saus mentega, dan menu kodok dalam masakan Cina lainnya.</p>
<p>Begitu pula sebaliknya, jika kita ngiras atau makan di warung swikee, jangan berharap menemukan pilihan menu paha kodok sekomplit yang disajikan restoran Cina. Jenis masakan di warung swikee memang nggak komplit, tapi hampir semua bagian  tubuh si kodok sawah itu diolah sedemikian rupa. Nggak cuma pahanya yang kekar seperti lengan para binaragawan, tetapi  jeroan dan kulitnya yang berwarna kehitaman juga nikmat disantap. Semua itu disajikan dalam olahan pepes: kodok pepes, telor kodok pepes, dan tito (jeroan kodok pepes). Oh ya, tersedia juga kulit kodok gooreng yang bentuknya seperti kerupuk rambak kering.</p>
<p>Pepes merupakan salah satu jenis masakan khas Indonesia (terutama Jawa dan Sunda) yang menggunakan daun pisang untuk membungkus ikan yang sudah dibumbui. bumbu yang digunakan umumnya menonjolkan cabai merah yang sudah dihaluskan. Menu masakan pepes memang terasa lebih pedas.</p>
<p>Rupanya, orang Tionghoa di Purwodadi mencoba mengakulturasikan kedua jenis masakan khas Cina dan Jawa tersebut ke dalam satu paket menu warung Swikee, yaitu kodok kuah dan pepes kodok. Bahkan nggak cuma paha kodoknya yang dipepes, tetapi telor dan jeran kodok juga dibikin pepes. Pepes kodok dan anatomi dalam ini  menu pendamping yang kemudian banyak diminati oleh pembeli. Barangkali karena citarasa lokal dari aroma daun pisang yang terbakar api panggangan menjadikan pembeli merasa sedang menyantap menu dari dapur ibu. Bukan menu dari chinese food restaurant. Apalagi ditambah kulit goreng yang berasa seperti kerupuk rambak itu. Bener-bener makan ala Jawa yang kriyuk-kriyuk kan?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Saya sendiri mulai mengenal masakan Swikee ketika tinggal beberapa tahun di Purwodadi sekitar tahun 1978, ketika saya masih SD. Meskipun kami tinggal di desa yang berjarak sekitar 12 km dari pusat kota Purwodadi, tapi kadang-kadang ada penjual swikee keliling yang lewat depan rumah kami. Kala itu swikee dijajakan keliling dengan pikulan. Pedagangnya seorang lelaki tengah baya berbadan kecil tapi cukup kuat memikul dua pengaron besar. Sebuah pengaron berisi daging paha kodok yang sudah direbus dan sebuah yang lain berisi kuah yang berwana coklat pekat.</p>
<p>Setiap kali pedagang itu lewat, kami selalu menghentikannya dan memborong bermangkuk-mangkuk swikee. Pepesnya juga kami borong. Bukan buat makan sendiri, biasanya keluarga kami juga mengundang tetangga kanan kiri untuk menyantap bersama. Menu yang tidak setiap hari bisa kami santap itu, bagaikan hidangan pesta yang super lezat. Wajar kan jika kami merayakannya dengan makan rame-rame dengan tetangga sekitar biar terasa lebih nikmat.</p>
<p>Kenikmatan Swikee Purwodadi, menurut saya bukan pada paha kodoknya saja, tetapi juga karena kuahnya yang manis perpaduan antara kecap dan taoco dari kedelai pilihan. Tentang kepekatan warna kuah Swikee Purwodadi ini juga menjadi pembeda  nyata dengan menu kodok kuah di restoran Cina. Bukan cuma warnanya,  tetapi rasanya juga jauh lebih mantab dan berasa Swikee Purwodadi.</p>
<p>Konon, kecapnya bukan sembarang kecap, tetapi kecap made in Purwodadi juga. Terutama kecap Tjap Udang buatan Ny. Oei Hok Hoo yang sudah diproduksi sejak tahun 1930-an. Kecap yang diolah secara manual tanpa menggunakan teknologi ini kapasitas produksinya memang terbatas. Per minggu hanya menghasilkan sekitar 480 botol. Wajarlah jika distribusinya terbatas dan popularitasnya kalah jauh dengan kecap-kecap pabrikan yang sering beriklan di televisi. Namun rasa manis kecapnya yang gurih, kecap made in Purwodadi ini makin memantapkan kelezatan semangkuk swikee.</p>
<p>Tak heran jika salah seorang pemilik warung Swikee Purwodadi yang cukup popular di Jakarta mengaku bahwa taoco dan kecapnya sengaja didatangkan khusus dari kota asalnya, Purwodadi Grobogan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=165</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>bakpia</title>
		<link>http://matatita.net/?p=155</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=155#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 09:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[culinary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika saya membeli bakpia pathuk bukan untuk oleh-oleh, tetapi untuk menyuguhi tukang batu yang sedang merenovasi rumah. Yang penting ada camilan pendamping teh panas untuk suguhan rehat. Karena bukan dalam rangka memberi buah tangan, kali ini saya sengaja membeli bakpia dari brand yang bukan juara satu.
Meskipun bukan bakpia juara, tetapi brand bakpia ini cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika saya membeli bakpia pathuk bukan untuk oleh-oleh, tetapi untuk menyuguhi tukang batu yang sedang merenovasi rumah. Yang penting ada camilan pendamping teh panas untuk suguhan rehat. Karena bukan dalam rangka memberi buah tangan, kali ini saya sengaja membeli bakpia dari brand yang bukan juara satu.</p>
<p>Meskipun bukan bakpia juara, tetapi brand bakpia ini cukup populer di Jogja, terutama di kalangan tukang becak yang biasa mengantar wisatawan membeli oleh-oleh khas Jogja. &#8220;Bakpianya sekotak berapa, Mbak?&#8221; tanya saya pada penjaga toko oleh-oleh di daerah Pathuk (Jl. K.S Tubun) sambil memilih-milih bakpia. &#8220;Kalau yang isi 15 harganya lima belas ribu, yang isi 20 harganya dua puluh ribu,&#8221; jawabnya. Lalu si Mbak penjaga toko itu bergeser lebih mendekat ke arah saya dan berbisik, &#8220;kalau Mbak-nya datang ke sini nggak diantar tukang becak, nanti dapet diskon tiga ribu rupiah per dos. Tapi diskonnya khusus bakpia aja.&#8221;</p>
<p>Saya segera paham. Pantas tukang-tukang becak lebih suka merekomendasikan bakpia KW 2 (kwalitas nomor dua) ini pada para wisatawan karena akan mendapat komisi Rp 3.000 per kotak bakpia yang dibeli. Pantas saja tukang becak rela dibayar Rp 3.000 untuk perjalanan bolak-balik dari Malioboro, Rotowijayan (batik), Pathuk, dan kemudian kembali lagi ke Malioboro. Rupanya komisi yang akan didapat tukang becak dari pembelian bakpia (dan juga batik) jauh lebih banyak ketimbang tarif Rp 3.000 return yang dikenakannya.</p>
<p>Seketika saya terkagum pada kedahsyatan sepotong bakpia Pathuk. Makanan berbahan dasar tepung terigu dengan isi kacang hijau (sekarang sudah lebih variatif, ada isi keju, coklat, nanas, dll), berdiameter sekitar 3 cm ini ternyata memiliki peran yang luar biasa dalam industri pariwisata Yogyakarta. Bakpia bukan sekedar camilan biasa. Pada sepotong bakpia, terdapat potongan memori tentang kota Jogja. Keduanya nyaris tak bisa dilepaskan. Menyebut kata bakpia (Pathuk), akan membawa ingatan kita pada Yogyakarta. Pada sepotong bakpia itu pula, ribuan wong cilik di Yogyakarta (tukang becak dan tukang parkir), mengharap komisi dari hasil penjualan bakpia Pathuk.</p>
<p>Padahal, sebenarnya bakpia bukanlah makanan khas Jogja. Camilan ini merupakan salah satu makanan khas dari daratan Tiongkok alias Cina yang dikenal dengan nama Tou Luk Pia. Keturunan Tionghoa di Indonesia biasa menyebutnya dengan Pia atau Pia-pia. Kue ini berbentuk bulat seperti bakpia (Pathuk), namun memiliki diameter yang lebih besar, hampir dua kali diameter bakpia Pathuk. Isinya beragam, bahkan ada yang isi daging yang sudah dilumatkan. Menemukan Pia juga tidak sulit, di toko-toko kue milik warga Tionghoa biasanya tersedia makanan ini.</p>
<p>Pia mulai berakulturasi dengan budaya Jawa, bahkan kemudian menjadi salah satu ikon kota Jogja, berkat keuletan Liem Yung Yen (Pendiri Bakpia 75). Yung Yen adalah warga kampung Pathuk, daerah di sebelah Barat kawasan Pecinan (Malioboro dan Gandekan), yang sehari-hari membuat penganan seperti Pia dan Bakpao (Bakpao Yung Yen sempat populer di Yogyakarta hingga tahun 80-an). Penganan buatannya itu dijajakan ke kampung-kampung di Yogyakarta pada tahun 1940-an. Agar lebih terjangkau warga kampung, Yung Yen memproduksi Pia dengan ukuran yang lebih kecil. Selain memperkecil size, Yung Yen juga melakukan inovasi pada isi pia dengan menggunakan kacang hijau yang dihaluskan. Kacang hijau merupakan salah satu hasil bumi yang berlimpah di Pulau Jawa dan banyak dikonsumsi sebagai makanan tambahan.</p>
<p>Pia inovasi Yun Yen terasa lebih &#8220;membumi&#8221; dan cocok dengan lidah Jawa. Camilan yang semula hanya dikenal di kawasan Pecinan, yaitu perkampungan yang dihuni warga Tionghoa, kemudian juga disukai oleh warga kampung-kampung lain di kota Jogja.  Peluang bisnis ini segera direspon warga Tionghoa lainnya di daerah Pathuk. Tak sedikit yang kemudian mengikuti jejak Yung Yen menciptakan pia kacang hijau. Toko-toko kecil yang menjual camilan ini pun mulai bermunculan di kawasan Pathuk.</p>
<p>Sementara itu, di daerah lain juga muncul produsen pia lokal dan mempopulerkannya dengan nama bakpia. Sebutan bakpia ini muncul entah karena lidah Jawa yang mudah kesleo dalam memberikan istilah, tetapi barangkali juga karena perintisnya Yung Yen juga memproduksi bakpao, maka camilan pia kacang hijau yang dipopulerkannya lantas dijuluki bakpia.</p>
<p>Salah satu produsen bakpia &#8220;pribumi&#8221; alias warga Jogja yang cukup populer hingga tahun 70-an adalah Nitigurnito yang tinggal di daerah Tamansari (Jl. Suryowijayan). Bakpia bikinan Nitigurnito sedikit berbeda dengan bakpia Pathuk. Lapisan kulitnya lebih tebal, berwarna putih dengan bagian tengah menjadi kecoklatan setelah dipanggang, jika digigit kulit bakpia tidak rontok berjatuhan. Tidak seperti pia Pathuk yang berkulit tipis dan mudah rontok.</p>
<p>Seperti halnya pia Pathuk yang segera menginspirasi warga sekitar untuk memproduksi dan membuka toko pia, bakpia Nitigurnito yang laris itu segera direspon warga sekitarnya. Toko-toko bakpia mulai bermunculan di daerah Tamansari. Bahkan, bagi warga asli Jogja, bakpia Tamansari lah yang dianggap sebagai bakpia khas Jogja.</p>
<p>Saya masih ingat, semasa bocah dulu, jika ingin membeli bakpia untuk camilan di rumah maupun untuk buah tangan kerabat jauh, kami akan membelinya di Tamansari. Hingga tahun 80-an masih terdapat beberapa toko kecil yang khusus menjual bakpia Tamansari dan makanan lain seperti geplak dan yangko. Toko-toko itu sekarang sudah banyak yang tutup atau menjelma menjadi kios kecil yang menjual aneka rupa kebutuhan sehari-hari. Toko bakpia Nitigurnito sendiri meskipun bangunannya masih tampak kokoh lengkap dengan papan namanya, namun juga jarang-jarang buka. Berkali-kali saya kecele setiap mau membeli bakpia legendaris itu, tokonya dalam keadaan tertutup.</p>
<p>Etos dagang orang Jawa memang tak seulet warga Tionghoa. Ketika industri bakpia Tamansari kian terpuruk, tak meninggalkan sisa, dan mulai dilupakan, bakpia Pathuk justru mencuat namanya dan menjadi ikon wisata kota Jogja. Tak banyak yang tahu bahwa di daerah Tamansari, di sebelah barat beteng kraton Yogya, juga pernah menjadi pusat bakpia Jogja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=155</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Mencintai Laut</title>
		<link>http://matatita.net/?p=136</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=136#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 16:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sea &amp; sand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Cobalah bertanya pada teman-teman di sekitarmu, ada berapa banyak yang bisa berenang. Saya yakin jumlahnya nggak sebanyak yang nggak bisa berenang. Di kantor saya, yang jumlah karyawannya sekitar 12 orang itu, hanya ada 2 orang yang mengaku bisa berenang, yaitu saya dan seorang staf keuangan. &#8220;Tapi saya bisanya renang gaya kampung loh, gaya mandi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cobalah bertanya pada teman-teman di sekitarmu, ada berapa banyak yang bisa berenang. Saya yakin jumlahnya nggak sebanyak yang nggak bisa berenang. Di kantor saya, yang jumlah karyawannya sekitar 12 orang itu, hanya ada 2 orang yang mengaku bisa berenang, yaitu saya dan seorang staf keuangan. &#8220;Tapi saya bisanya renang gaya kampung loh, gaya mandi di sungai,&#8221; jelas rekan saya. Saya sendiri juga tak pernah secara khusus ikutan kursus renang. Saya mulai belajar berenang karena waktu kecil gemar mandi di kali. Setelah gede dan berkenalan dengan kolam renang, barulah saya belajar renang gaya kodok secara otodidak.</p>
<p>Padahal, sebagai bangsa bahari yang katanya punya nenek moyang orang pelaut, mustinya berenang merupakan keahlian genetis orang Indonesia. Apalagi 3/4 wilayah Indoneia adalah lautan yang seluas sekitar 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81 ribu km. Lahir jebrot, mustinya sudah diakrabkan dengan air.</p>
<p>Di samping rendahnya minat untuk belajar berenang, kurikulum pendidikan di Indonesia juga kurang memberi ruang dalam memperkenalkan sumber daya kelautan ini pada para siswa. Sepanjang yang saya ingat, dari SD hingga SMA pelajaran geografi kelautan ini masih sebatas pada perjalanan kemaritiman Indonesia, di mana kita adalah bangsa bahari yang besar sejak jaman Sriwijaya dan Majapahit. Tapi kami tidak pernah dikenalkan pada Raja Ampat (Papua) yang ternyata memiliki keragaman hayati tertinggi di dunia. Kami juga tidak tahu bahwa Ternate adalah pengekspor ikan sashimi terbesar di Asia.</p>
<p>Minimnya edukasi kelautan yang saya terima dari sekolah dan lingkungan membuat saya kurang begitu tertarik pada laut. Puluhan tahun saya dibiarkan menganggap laut sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, nggak seeksotis suku-suku di pedalaman.</p>
<p>Saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri. Bisakah saya jatuh cinta pada luat Indonesia yang lebih luas ketimbang daratannya?</p>
<p>Sekitar awal tahun 2005, saya berkesempatan mewawancarai Prof Dr Ir Alex Kawilarang Warouw Masengi MSc. Beliau adalah Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, pakar bidang perkapalan yang sejumlah inovasinya telah dipatenkan di Jepang dan Genewa. Yang menarik, Prof. Alex Kawilarang malah lebih suka mengembangkan kapal perikanan ketimbang kapal-kapal feri untuk mengangkut penumpang. &#8220;Banyak nelayan yang sering mengalami kecelakaan, tetapi tidak pernah diekspos media,&#8221; katanya tentang salah satu alasannya memilih mengembangkan inovasi teknoogi kapal perikanan untuk nelayan.</p>
<p>Saya terkagum. Bebincang dengan pakar yang ilmunya sama sekali tak saya pahami, ternyata menggiring saya mulai memperhatikan laut. Sorenya, saya memutuskan untuk menghabiskan malam terakhir saya di Manado dengan menginap di Pulau Bunaken. &#8220;Ke Bunaken itu enaknya berangkat pagi-pagi dari Manado, lalu  kembali sekitar pukul 10 pagi,&#8221; saran relasi saya. Umumnya wisatawan yang pengin melihat Taman Laut Bunaken dan tidak menyelam akan memilih trip singkat itu. Tapi saya kok nggak mantep ya, apa serunya cuma beberapa jam di Bunaken? Sudah begitu, sewa boatnya pun mahal, sekitar Rp 250.000. Nggak worthed banget kan?</p>
<p>Lalu saya tetap berpegang pada pilihan semula: menginap semalam di Bunaken sebelum besok siangnya terbang kembali ke Jogja.</p>
<p>Sore hari cukup banyak boat menuju Pulau Bunaken dan pulau-pulau di sekitarnya. Selain karena pada sore hari air laut cenderung surut dan angin tidak terlalu kencang, juga karena banyak orang pulau yang akan kembali setelah berbelanja di pasar. Jangan heran jika di dalam kapal itu banyak sekali muatan belanjaan kebutuhan sembako: berkarung-karung beras, berjerigen minyak goreng, sayuran, bahkan berbotol-botol minuman keras ramuan lokal (cap tikus). Membaur dengan warga setempat berikut belanjaannya di atas teluk Manado ini membuat saya jadi bergairah. Apalagi hanya butuh ongkos Rp 25.000 saja.</p>
<p>Setelah tiga puluh menit terguncang di teluk Manado, akhirnya kapal merapat persis di <a href="http://www.bastianos.com/" target="_blank">Bastianos Diving Resort</a>. Saya langsung takjub melihat deretan bungalow yang berjejer di bibir pantai itu. Romantis sekali. Belum-belum saya sudah membayangkan suami yang di Jogja. Dan begitu mendapatkan kunci bungalow, saya makin takjub. Wow, ranjangnya berkelambu! Bayangkan, pondok kayu berundak di tepi pantai, dengan dinding-dinidng kayu, dan ranjang berkelambu bak kamar tidur pengantin baru!</p>
<p>Malam tak bersuami di sebuah pulau seluas 8 km2 itu, saya nikmati dengan merenung. Sementara itu di living room, tampak beberapa bule yang membicarakan dive-trip esok hari. Dalam hati, saya menertawakan diri sendiri. Ke Bunaken kok nggak diving, nggak snorkling, nggak nyebur laut sama sekali. Jadi buat apa buang-buang uang bayar bungalow di tengah pulau ini? Ataukah sekedar untuk pamer posting kisah perjalanan di blog bahwa saya juga pernah ke Bunaken?</p>
<p>Esok paginya, sebelum jadwal boat untuk umum mengangkut penumpang ke Manado pukul 10.00, saya menyempatkan menyewa glass bottom boat untuk melihat keindahan laut Bunaken. Uh, memalukan. Jauh-jauh ke Bunaken kok nggak nyebur ke laut sih? Pikiran saya masih dikacau dengan ketidaktertarikan saya akan berbasah-basah di laut. Padahal, saya kan bisa berenang dan bisa snorkeling. Tetapi kenapa saya tidak tertarik untuk nyebur ya?</p>
<p>Sembari menikmati keindahan Taman Laut Bunaken dari kaca yang ditempatkan pada bagian bawah perahu, tiba-tiba saya teringat &#8216;kangsenan&#8217; saya dengan Bayu Wardoyo, seorang diver yang tinggal di Bali. Beberapa waktu lalu kami bertemu di toko mutiara Bali Pearl yang dikelolanya. Mas Bayu berjanji akan mengajak saya ke Teluk Terima, di Taman Nasional Bali Barat, tempat penangkaran mutiara sekaligus tempat diving favoritnya di Menjangan. &#8220;Kalau mau ke Bali lagi, kontak saya dulu. Supaya bisa ngepasin jadwal saya ke Menjangan,&#8221; katanya ramah. Dan saya berjanji akan mengatur waktu dan menghubunginya segera.</p>
<p>Mustinya, saya segera mengatur waktu ke Bali lagi. Tapi ternyata saya memilih mengulurnya. Menunda-nunda hampir setahun kemudian baru mengontaknya lagi. Alasannya sederhanya, karena saya kurang tertarik dengan laut dan nggak bisa diving! Tapi saya harus menemuinya.</p>
<p>Akhirnya kami bertemu lagi di Teluk Terima. Pagi itu Mas Bayu akan mengajari seorang muridnya menyelam di Menjangan. Beberapa rekannya juga ikutan bergabung untuk diving. &#8220;Beneran nih, nggak mau ikutan nyebur,&#8221; tanyanya sekali lagi sebelum kami masuk ke boat. Lalu ditunjuknya sebuah ruangan yang berisi sejumlah peralatan snorkeling dan menyelam, termasuk wet-suit yang boleh saya pakai gratis. Tapi ternyata saya menggeleng.</p>
<p>Jadilah hari itu saya merupakan satu-satunya penumpang boat yang nggak basah sama sekali. Selagi yang lain pada nyilem, berwisata ke bawah laut, saya malah menjelajah Pulau Menjangan. Kebetulan, ada sejumlah perahu merapat yang berisi orang Bali lengkap dengan pakaian adat dan sesaji di tangan. Begitu mereka turun dari perahu, saya mengikutinya. Rupanya, ada pura  yang cukup besar di tengah Pulau Menjangan ini. Bahkan ada Pagoda Agung. Juga ada Pendopo Agung Dalem Patih Gadjah Mada. Nah lo berarti ada Hindu, Buddha, dan Jawa di pulau ini.</p>
<p>Saya jadi semakin bersemangat menjelajah Pulau Menjangan, pulau yang hanya dikunjungi warga jika akan melakukan upacara adat. Pulau tak berpenghuni ini bagaikan hutan kecil. Asyik juga menyusuri jalan setapaknya, menyibak rerumputan dan ranting-ranting pohon. Menjangan tak hanya indah di kedalaman lautnya, tapi juga menyimpan eksotisme di atas tanah yang dilebati pohon-pohon.</p>
<p>Kali lain, saya menemukan eksotisme tersendiri di daerah yang menjadi destinasi wisata para diver, yaitu di Berau dekat Pulau Derawan. &#8220;Udah sampai Berau tapi nggak ke Derawan?&#8221; komentar teman-teman yang suka diving dengan penuh keheranan. Mereka juga semakin heran begitu saya kasih tahu bahwa sebenarnya sudah tersedia boat yang siap mengantar saya ke Derawan sore itu.</p>
<p>Beberapa bulan sebelum ke Berau, saya mendapat tawaran dari Bapak Hirmen, Pimpinan Program TNC-WWF untuk mengunjungi Derawan. Tentu saja saya tak ingin menolak. Hanya saja butuh ngatur waktu dan job yang memungkinkan saya bisa terbang ke Berau dari Jogja.</p>
<p>Waktu dan pekerjaan rupanya berpihak pada saya, meski hanya terbatas. Ketika itu saya bertugas ke Tarakan dilanjut ke Berau dan Samarinda. Saya segera menghubungi Pak Hirmen menyampaikan rencana saya ke Berau. Senangnya mendengar jawaban di telpon yang begitu antusias. Bahkan setelah kami bertemu di Berau, sambutannya jauh lebih antusias dari yang saya bayangkan. Diajaknya saya ke kantor WWF Berau, ditunjukkannya saya foto-foto penyu yang lagi bertelur, diberinya saya buku-buku dan buklet tentang kawasan konservasi pulau Derawan.</p>
<p>&#8220;Sore nanti kita bisa berangkat bersama ke Derwan. Boatnya sudah disiapkan,&#8221; katanya membuat saya sedih. Karena saya tak bisa lama di Berau, cuma 2 hari. Itupun harus menemui seseorang yang cukup sibuk, sehingga belum bisa dipastikan kapan bisa bertemu. Sudah begitu, lusa harus tiba di Samarinda untuk pekerjaan lain. &#8220;Kalau sore ini berangkat dan besok pagi kembali lagi mungkin nggak?&#8221; tawar saya. Dan ternyata tidak mungkin.</p>
<p>Waktu tempuh dengan speed boad dari Berau ke Derawan sekitar 3 jam. Jika kami berangkat sore, baru tiba menjelang petang. Mengingat cuaca agak kurang bagus, nggak menjamin esok harinya bisa kembali. Paling aman, menurut Pak Hirmen, menginap 2 malam di Derawan dan baru kembali lusa. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya dengan nggak enak hati, saya memutuskan untuk nggak berangkat ke Derawan.</p>
<p>Sore itu kemudian saya menghabiskan waktu ngabuburit (kebetulan pas bulan Ramadhan) di pinggir Sungai Berau yang tiap senja dipadati pedagang kaki lima. Besok paginya, saya berketinting menyusuri sungai dan berwisata ke bekas Kasultanan Berau yang terletak di seberang sungai. Wisata sejarah yang nyaris terlupakan (atau malah terabaikan) oleh penikmat diving yang bergegas ke Derawan.</p>
<p>Setelah beberapa kali mendapat tawaran nyilem dan mengeksplorasi keindahan laut Nusantara, akhirnya saya meluangkan waktu belajar diving. Karena nyali saya cukup berani, proses belajar itu nggak berlangsung lama. Dive master yang mengajari bahkan langsung mengajak saya nyilem di kedalaman 10 meter. Waw&#8230;senangnya bertemu aneka warna ikan. Tapi, di mata saya, ikan-ikan itu tak seeksotis suku-suku di pedamalan Nusantara yang membuat saya ingin mengenalnya lebih dekat. Keindahan dasar laut, belum membuat saya jatuh cinta. Apalagi tergila-gila sampai nagih nyilem.</p>
<p>Meski begitu, saya ingin ikutan menjaga kelestariannya. Dengan cara yang berbeda, tanpa harus mandi air laut dan nyilem. Bisakah? Saya tengah memikirkannya. Jalesveva Jayamahe.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=136</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mr. Jack (baca: Tukang Ojek)</title>
		<link>http://matatita.net/?p=123</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=123#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 15:30:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[transportation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Tahu nggak, di Indonesia ada sebuah kota yang mendapat julukan sebagai Kota Ojek karena begitu banyak tukang ojek yang mangkal maupun berseliweran di jalan. Kota itu adalah Ternate, di Maluku Utara. Saya sendiri baru mengetahui bahwa Ternate sempat dijuluki Kota Ojek dari Harian Kompas (24 Agustus 2009). Kompas juga mengutip pendapat salah seorang warga Ternate [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahu nggak, di Indonesia ada sebuah kota yang mendapat julukan sebagai Kota Ojek karena begitu banyak tukang ojek yang mangkal maupun berseliweran di jalan. Kota itu adalah Ternate, di Maluku Utara. Saya sendiri baru mengetahui bahwa Ternate sempat dijuluki Kota Ojek dari Harian Kompas (24 Agustus 2009). Kompas juga mengutip pendapat salah seorang warga Ternate yang pernah menyaksikan tayangan kuis Who Wants To Be A Millionaire di mana disebutkan bahwa Ternate merupakan kota dengan tukang ojek terbanyak di Indonesia.</p>
<p><span id="article_body">Masih menurut Kompas, sepeda motor yang masuk di Ternate pada 2008 sekitar 12.025 unit dan tahun 2009 (s.d Juli) sedikitnya terdapat 2.482 sepeda motor baru. Diperkirakan, setiap tahun terdapat 500 - 1.000 unit sepeda motor yang masuk ke pulau Ternate yang luasnya hanya sekitar 40 km2 ini. Waw..! </span></p>
<p>Jauh sebelum saya membaca ulasan Kompas tersebut, saya sudah merasakan betapa banyaknya tukang ojek di Ternate saat berkunjung ke pulau itu beberapa tahun silam. Selain dapat dilihat dari banyaknya pangkalan ojek, juga banyak kendaraan bermotor yang melaju sambil menyalakan klakson jika melintas di depan orang yang berdiri di pinggir jalan. Semula saya nggak ngeh bahwa pengendara sepeda motor itu menawarkan jasa ojek. Ditilik dari penampilannya, nggak seperti tukang-tukang ojek yang biasa saya lihat di Jawa. Siapa sih yang menyangka bahwa anak muda berkaus polo dan mengenakan celana cargo sebatas lutut juga narik ojek?</p>
<p>Karena sering melihat orang Ternate menyetop motor lewat di sepanjang jalan, saya pun mulai memberanikan diri berlagak orang Ternate yang sudah terbiasa naik ojek. Ngojek nggak perlu mencari pangkalannya, pokoknya asal nyetop sembarang motor lewat. Tentu saja yang nggak lagi berboncengan. Nah bener juga, beberapa kali nyetop, nggak pernah salah kok. Nggak pernah ada yang menolak dan bersedia mengantar saya menyusuri Ternate: ke Kraton, ngambil tiket di Merpati Airlines, ke Terminal Gama, ke hotel, dan ke mana saja saya pengin jalan.</p>
<p>Suatu ketika saya pengin ngojek ke Benteng Oranje. Saya menyetop sembarang motor yang lewat di depan hotel. Penampilan Mr. Jack alias Tukang Ojek kali ini agak rapi. Mengenakan kemeja yang dimasukkan dalam celana jeansnya. Juga bersepatu. Saat motornya melaju, aroma wangi sabun menyerobok lubang hidung saya. Hhmmm, habis mandi rupanya. Sampai di tengah jalan Mr. Jack bertanya, &#8220;jalannya benar lewat sini nggak ya? Saya agak ragu&#8230;&#8221; Pertanyaannya membuat saya heran. Ternate, pulau imut ini kan nggak habis satu jam untuk mengitarinya, masak iya orang Ternate sampai lupa jalan. Apalagi Benteng Oranje merupakan salah satu obyek wisata andalan Ternate. &#8220;Emang Bapak nggak tahu tempatnya?&#8221; Saya balik bertanya. &#8220;Maaf, soalnya saya bukan orang sini,&#8221; jawabnya yang membuat saya keheranan lagi. Tapi segera berupaya positive thinking. Barangkali saja, ia warga baru di Ternate. &#8220;Saya bukan orang Ternate. Di Ternate cuma untuk nunggu kapal Pelni yang menuju Palu tiba esok hari&#8230;,&#8221; jawabnya di antara deru kendaraan. Oalah, jadi sambil nunggu kapal merapat, nyari obyekan dengan ngojek nih. Hehe&#8230;.!</p>
<p>Pengojek dadakan yang lebih parlente pernah saya temukan di pulau lain, yaitu di Pulau Buton Sulawesi Tenggara. Ketika itu saya baru mendarat di Bandar Udara Bau-Bau di Pulau Buton yang belum lama diresmikan. Karena Bandar udaranya masih sepi (baru ada satu penerbangan), sarana transportasi dari bandara ke kota Bau-bau pun masih sangat terbatas. Jangankan taksi bandara, angkot pun tak ada yang lewat. Satu-satunya yang paling mungkin adalah membonceng Mr. Jack yang cukup agresif menawari penumpang yang keluar dari terminal kedatangan.</p>
<p>Karena baru pertama kali mendarat di Bau-Bau dengan pesawat yang baru beberapa hari beroperasi, saya sengaja tidak langsung menerima tawaran Mr. Jack. Santai-santai dulu ah, sambil melihat-lihat kawasan bandara yang sepertinya berada di tengah padang gersang dan jauh dari perumahan penduduk ini. Celakanya, nggak sampai seperempat jam, suasana bandara menjadi bener-bener sunyi. Semua penumpang sudah menuju ke kota, umumnya dengan mobil jemputan, atau mencarter angkutan jika membawa barang banyak, dan selebihnya membonceng Mr. Jack.</p>
<p>Waduh, gimana nih? Saya terbengong di ruang tunggu bandara yang sepi. Hanya ada 5 orang: saya, ibu penjaga kantin yang sudah mulai berkemas, seorang pegawai Dinas Perhubungan, seorang Polisi Bandara, dan seorang lelaki tak berseragam. Mereka sedang mengobrol.</p>
<p>Saya mulai gelisah. Kalau bener-bener nggak ada transportasi ke kota gimana ya? Sementara hari ini tidak mungkin ada pesawat datang lagi, karena baru ada satu kali penerbangan langsung ke Bau-bau dari Makassar. Itu pun nggak tiap hari. Sementara pesawat yang tadi saya tumpangi baru akan kembali ke Makassar besok pagi. Artinya, bandara ini baru akan ramai kembali besok pagi, sebelum lepas landas.</p>
<p>Saya celingak-celinguk, berharap menemukan lelaki yang nangkring di atas motornya, yang bisa saya carter untuk ke kota. Petugas bandara berseragam biru muda yang sedang mengobrol itu sepertinya menangkap kegelisahan saya. &#8220;Cari ojek ya?&#8221; Tanyanya. Saya mengangguk dan dia tersenyum, &#8220;dari tadi ditawarin nggak mau.&#8221; Oh ya, sejak saya mendarat tadi, si Bapak berseragam itu sudah beberapa kali menawari ojek. Tapi saya sok nolak, karena pengin menikmati suasana bandara baru ini. Ya sudahlah, kali ini nggak perlu malu dan mengakui kemenangan si Bapak berseragam. Saya tersipu melihat senyum kemenangannya yang makin terbuka lebar. &#8220;Jadi mau di antar ke mana?&#8221; Tanyanya. &#8220;Ke vilanya Pak Kasim,&#8221; jawab saya.</p>
<p>Tujuan pertama saya memang ke tempat penginapan yang saya temukan di Lonely Planet. Di LP tertera bahwa nama penginapan itu adalah Highland Resort atau House on the Hill. Tidak ada alamat lengkap yang tertera, hanya nomor telpon saja. Dan ketika menghubungi nomor tersebut untuk reservasi sambil menanyakan alamatnya, penerima telpon di seberang hanya berpesan, &#8220;Nanti di bandara bilang aja ke Tukang Ojek minta diantar ke Villa Pak Kasim. Semua orang sudah tahu kok.&#8221;</p>
<p>Dan benar, petugas bandara itu juga langsung paham dengan tempat tujuan saya, meskipun hanya dengan satu kalimat, &#8220;ke vilanya Pak Kasim.&#8221; Pasti Pak Kasim ini termasuk orang yang cukup sukses dan terkenal di Pulau Buton ini, batin saya.</p>
<p>Lalu petugas bandara itu berteriak memanggil seseorang, yang saya yakin adalah Mr. Jack. Tapi&#8230;loh, kok yang datang rekan sejawatnya? Sama-sama berseragam Dinas Perhubungan pula! Gimana sih Bapak ini, masak malah ngundang staf bawahannya? Saya menduga yang datang itu staf bawahannya karena tampak lebih muda.</p>
<p>Kepada rekan sejawatnya itu, ia memberitahukan lokasi villa Pak Kasim. Setelah ia mengangguk paham, saya dipersilakan memboncengnya. What? Jadi petugas bandara bisa nyambi ngojek juga ya? Good, terima kasih ya Pak, sudah menyelamatkan saya dari tengah belantara yang sunyi ini.  Anda sudah memberikan service yang terbagus untuk pengguna jasa bandar udara ini. Two thumbs up for you.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=123</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa sih Lu?</title>
		<link>http://matatita.net/?p=101</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=101#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 09:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[backpacking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[
 

&#8220;Dari Jakarta ya, Mbak?&#8221; pertanyaan senada sering dilontarkan pada saya begitu tiba di kota-kota di wilayah Indonesia Timur. Mula-mula sopir taksi bandara yang basa-basi pada penumpang, kemudian staf hotel yang mengantar ke kamar, dan tak jarang staf di kantor relasi saya yang menjemput di bandara atau hotel sering mengira saya adalah petugas yang dikirim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">&#8220;Dari Jakarta ya, Mbak?&#8221; pertanyaan senada sering dilontarkan pada saya begitu tiba di kota-kota di wilayah Indonesia Timur. Mula-mula sopir taksi bandara yang basa-basi pada penumpang, kemudian staf hotel yang mengantar ke kamar, dan tak jarang staf di kantor relasi saya yang menjemput di bandara atau hotel sering mengira saya adalah petugas yang dikirim dari kantor pusat, </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB">.</span></p>
<p>Sebenarnya saya cukup maklum dengan tuduhan itu. Mengingat luasnya wilayah negeri kita dan mahalnya biaya tiket pesawat menuju wilayah Indonesia Timur, apalagi hingga pedalaman, menjadikan kawasan timur <span lang="EN-GB">Indonesia</span><span lang="EN-GB"> lebih banyak dikunjungi staf atau pejabat dari kantor pusat ketimbang warga biasa yang sengaja melancong. Selain pejabat, yang banyak mendapat kesempatan terbang ke Indonesia Timur adalah staf dari NGO. </span></p>
<p><span lang="EN-GB">Perbedaan keduanya bisa ditilik dari penampilannya. Staf NGO penampilannya lebih kasual, kadang-kadang kesan outdoor-nya lebih dominan. Mengenakan celana cargo yang banyak kantongnya, topi lapangan, t-shirt, dan backpack yang berisi laptop dan pakaian ganti. Sementara itu pegawai kantor pusat biasanya berpenampilan lebih rapih, mengenakan pakaian dinas, dan menenteng tas jinjing berisi laptop atau dokumen penting. Maklum, di bandara tujuan biasanya mereka sudah dijemput staf dari instansi terkait di </span><span lang="EN-GB">kota</span><span lang="EN-GB"> tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Saya pernah beberapa kali duduk dalam satu pesawat dengan orang-orang pusat seperti itu. Sewaktu masih di dalam pesawat, saya nggak tahu jika yang duduk di sebelah saya seroang kepala dinas atau pejabat teras.Tapi begitu pesawat mendarat dan pintu keluar dibuka, sudah berdiri sejumlah orang berseragam sama dengan si Bapak tadi. Tas jinjingnya langsung diambil alih seorang di antara mereka. Lalu mereka berjalan mengiringi Si Bapak menuju pintu keluar khusus pejabat, yang nggak perlu antri seperti penumpang pesawat lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Pemandangan serupa juga sering saya lihat saat akan terbang dari Timur ke Barat. Kalau ada penggede yang mau terbang (apalagi ibu2 penggede yang rambutnya disasak tinggi..:D), si ajudan tak hanya bertugas mengantar atasannya hingga ke pintu masuk pesawat, tapi tak jarang juga dibikin repot dengan urusan check-in.</span><span lang="EN-GB"> Apalagi kalau bagasinya overload karena memborong oleh-oleh khas daerah. Saya pernah beberapa kali menemui kejadian seperti itu. Dan si ajudan pun berusaha melobi petugas konter check-in agar tidak perlu membayar kelebihan bagasi karena yang terbang adalah Pak Kepala Dinas Anu. “Nggak bisa, Pak. Ini sudah ada peraturannya, nanti saya kena marah,” jawab si Mbak. “Tolong dibantu ya,” si ajudan tetap ngeyel. Mugkin karena dia juga nggak dikasih uang lebih buat bayar bagasi. “Atau gini, Bapak temuin staf di kantor maskapai saja ya, di sebelah </span><span lang="EN-GB">sana</span><span lang="EN-GB">,” jawab si Mbak nggak mau mengambil resiko. Kasihan juga si ajudan, kedatangan tamu dari </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> malah nombok. Hehe….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Penggede daerah yang akan terbang ke Pusat, juga nggak kalah serunya. Apalagi jika yang akan terbang seorang Gubernur, penjagaan dan pengawalan di bandara mendadak ketat, seperti yang pernah saya lihat di Bandara Pattimura, </span><span lang="EN-GB">Ambon</span><span lang="EN-GB">. Saya sedang menanti jemputan dari kantor relasi di depan terminal keberangkatan. Tiba-tiba meluncur serombongan mobil, yang paling depan mobil patroli Polisi, lalu mobil berplat satu digit, diikuti 2 mobil berisi staf dan ajudan berseragam dinas pemerintah, dan paling belakang mobil patroli Polisi lagi. Gubernur keluar dari mobil kedua, lalu berjalan diiringi sejumlah staf dan ajudannya. Beliau tersenyum ramah menyapa para petugas bandara yang menundukkan kepala memberi hormat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Setelah Gubernur masuk, mobil-mobil pengantar itu tak juga berlalu. Polisi yang mengawal tetap berada di sekitar terminal kedatangan. Hampir setengah jam mereka di </span><span lang="EN-GB">sana</span><span lang="EN-GB">, sampai jemputan saya datang mereka belum beranjak. Rupanya, mereka baru akan kembali ke </span><span lang="EN-GB">Ambon</span><span lang="EN-GB"> setelah pesawat Pak Gub lepas landas. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Jika sedang menggunakan transportasi darat, baik angkot maupun bus antar </span><span lang="EN-GB">kota</span><span lang="EN-GB">, kadang-kadang saya masih dituduh sebagai orang </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB">. Tapi yang paling sering dituduhkan ke saya adalah sebagai staf NGO atau wartawan. Mungkin karena penampilan saya memang lebih dekat dengan </span><span lang="EN-GB">gaya</span><span lang="EN-GB"> anak LSM atau anak pers ya. Lagipula jarang-jarang ada orang </span><span lang="EN-GB">Indonesia</span><span lang="EN-GB"> yang semata-mata datang ke wilayah timur hanya untuk berpiknik. Umumnya sih berkunjung karena perjalanan dinas dan mencuri-curi waktu untuk menyusur daerah sekitar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Sewaktu di Wamena, Papua, seorang intel gadungan yang mencegat saya nggak percaya jika saya bukan NGO atau wartawan. “Anda wartawan ya?” tanyanya penuh tuduhan. Ketika saya jawab bukan, dia sok yakin berkata, “kalau begitu LSM dari mana?” Di Atambua, kota paling timur perbatasan Timor Timur, dalam perjalanan darat dengan minibus menuju Kupang, seorang Bapak yang duduk di samping saya dengan yakin bertanya, “LSM dari mana, dik?” Nah lo.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Saya sendiri sering kesulitan mendeskripsikan pekerjaan saya, apalagi pada orang lain yang baru saya kenal di jalan, yang kadang-kadang cuma berbasa-basi bertanya untuk menghilangkan kejenuhan di jalan. Biasanya saya mengaku sebagai staf dari perusahaan relasi saya yang brand-image-nya sudah lebih populer. Untuk menghindari obrolan yang lebih jauh tentang pekerjaan, saya lebih suka menyebut bahwa “ saya dari Jogja.” Apa pun pertanyaannya: dari instansi mana; dari NGO apa; atau dari media mana: semua itu cukup saya jawab dengan satu kalimat ampuh: “Saya dari Jogja.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Selain karena memang saya bener-bener dari Jogja, saya juga ingin menghindari kesan </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> ketika sedang berada di manapun, apalagi di kawasan Indonesia Timur. Saya kurang begitu suka hal-hal yang berbau “pusat” yang dalam konteks </span><span lang="EN-GB">Indonesia</span><span lang="EN-GB"> berarti </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB">. </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> nggak harus jadi mainstream </span><span lang="EN-GB">kan</span><span lang="EN-GB">?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Lagipula banyak respon positif yang saya terima setelah mereka mendengar jawaban “saya dari Jogja”. Biasanya sikap mereka jadi lebih baik, setidaknya itulah yang saya rasakan. “Saya juga pernah ke Jogja. Ke Kraton. Waktu itu kami mendapat undangan mewakili Propinsi Papua,” kata seorang lelaki berkoteka, suku Dani, yang tinggal di distrik Kurulu, Wamena. Semula ia mengira saya orang </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> yang sedang tugas di Jayapura, dan singgah sebentar ke Wamena untuk melihat eksotisme suku Dani, dan setelah itu kembali ke Jayapura dengan pesawat sore. (Sehari setidaknya ada 3 kali penerbangan Jayapura – Wamena). Setelah tahu bahwa saya orang Jogja dan ia pernah sekali berkunjung di Jogja, kami jadi lebih akrab. Ia pun dengan antusias bercerita saat berjabatan tangan dengan Sultan HB X. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Tak jarang saya ketemu dengan sesama KAGAMA (Keluarga Besar Alumni Universitas Gadjah Mada). “Dulu saya juga kuliah di UGM.” Kalau sudah ketemu KAGAMA, meskipun beda angkatan yang beda puluhan tahun dan juga beda fakultas, tapi muncul perasaan sekeluarga. Malah saya pernah bertemu dengan seorang pengusaha di Samarinda yang pernah menghabiskan masa kecil wilayah Ngadisuryan Jogja atau sekampung dengan keluarga saya, dan sama-sama sekolah di TK Budi Asih! Hal-hal seperti ini membuat saya merasa ayem berada di tempat nun jauh dari Jogja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Dari sekian kali pertemuan dengan orang-orang baru di luar Jawa, yang paling mengesankan adalah respon seorang sopir angkot di Sentani, Jayapura. Dalam perjalanan menuju Gunung Ifar, Sentani, saya naik angkot duduk di kursi depan, sebelah Pak Sopir. Mungkin karena di sepanjang jalan saya motret-motret pake kamera ponsel, Pak Sopir segera tahu bahwa saya adalah pendatang. “Dari mana, Mbak?” pertanyaannya sudah saya duga. Jawaban standard pun sudah saya siapkan, “saya dari Jogja.” Responnya sungguh tak terduga, “Oh, Mbak dosen UGM ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Saya bahagia luar biasa, ada yang menuduh saya sebagai intelektual! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=101</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mother FCKR</title>
		<link>http://matatita.net/?p=97</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=97#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 08:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[security]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[
 

Sekian kali melakukan perjalanan, banyak pengalaman konyol dan menyebalkan yang saya alami. Yang nggak terlupakan dan tetep sebel kalau mengingatnya adalah ketika dimaki-maki seorang perempuan anggun yang duduk di sebelah saya dalam gerbong kereta bisnis. Kejadiannya sekitar akhir tahun 2002, di atas kereta bisnis yang saya tumpangi dari stasiun Gubeng jurusan Surabya - Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Sekian kali melakukan perjalanan, banyak pengalaman konyol dan menyebalkan yang saya alami. Yang nggak terlupakan dan tetep sebel kalau mengingatnya adalah ketika dimaki-maki seorang perempuan anggun yang duduk di sebelah saya dalam gerbong kereta bisnis. Kejadiannya sekitar akhir tahun 2002, di atas kereta bisnis yang saya tumpangi dari stasiun Gubeng jurusan Surabya - </span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Jakarta</span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> (lewat jalur Selatan dan akan berhenti di Jogja).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Perempuan anggun itu mungkin berusia sekitar 40 tahun. Ia mengenakan seragam “coklat-coklat”, khas Pegawai Negeri, menenteng tas kantor atau tas seminar berbentuk persegi, dan mengenakan sepatu hitam berhak rendah. Rambutnya diikat <em>tekuk</em>, seperti </span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">gaya</span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> tata rambut tahun 70-an. Kulitnya langsat dan wajahnya cantik, dengan bibir tipis bergincu merah. Sungguh penampilan seorang ibu yang anggun, sangat kontras dengan celana jeans<span> </span>dan kemeja yang saya kenakan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Saya memang masih bisa dengan detail menggambarkan penampilan fisik Ibu karena ia sempat bertanya nomor kursinya dan permisi melewati saya yang duduk di pinggir lorong (isle). Saat itu juga saya sempat tertegun dengan seragam “Pemda” yang dikenakannya di atas kereta bisnis jurusan </span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Surabaya</span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> – </span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Jakarta</span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">. “Masak perjalanan dinas juga pakai baju kantoran? Mana naik kereta pula,” batin saya. Ah, tapi barangkali dia cuma turun di Madiun. Barangkali juga dia habis ikut seminar di Propinsi mewakili Kabupaten dan sorenya langsung balik. Kereta yang saya tumpangi itu berangkat sekitar pukul 16.00 WIB, waktu yang hampir berbarengan dengan berakhirnya jam kerja Pegawai Pemerintah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Sepanjang perjalanan kami nggak ngobrol. Selain karena lelah dan ngantuk, saya juga bukan tipe orang yang suka beramah-ramah di angkutan umum. Lepas dari stasiun Mojokerto, kira-kira satu jam setelah kereta bergerak, Ibu itu mengajak bicara. “Turun di mana, Mbak?” Saya menoleh padanya dan menjawabnya singkat, “Jogja,” tanpa ingin tahu ke mana tujuannya. Kemudian saya kembali ke posisi semula, mendekap tas dan memandang ke lorong gerbong kereta. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Tapi saya merasa Ibu itu masih saja menatap saya dari samping. Apakah masih pengin ngobrol? Batin saya. Ah, tapi males, lagi capek dan ngantuk. Saya mencoba nggak peduli. Namun mukanya yang menghadap kearah saya, membuat risih juga. Saya pun menoleh dan bertanya. “Kenapa Bu?” Tanya saya heran melihat tatapannya yang tajam dan aneh kearah saya. Ia tidak segera menjawab, tapi mempertajam tatapannya. Bibirnya berkerut seolah menahan amarah. Saya bergidik, mulai ketakutan. “Ibu kenapa?” Tanya saya lagi, sambil agak menjauhkan badan darinya. Ngeri dengan tatapan matanya. Sejurus kemudian ia mengacungkan telunjuknya persis ke muka saya sambil memaki-maki. Segala nama binatang najis dan haram meluncur dari bibir tipisnya yang bergincu merah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Saya tersentak. Jantung nyaris terhenti karena kaget setengah mati. Segera beranjak dari tempat duduk, menjauh. Tubuh saya terhuyung karena menggigil ketakutan ditambah dengan goncangan gerbong kereta. Seluruh penumpang di gerbong segera heboh demi mendengar kata-kata kotor menyeruak diantara bisingnya mesin kereta api. “</span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Ada</span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> apa? </span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Ada</span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> apa?” Tanya mereka bersahutan. Saya menjauh dari tempat duduk. “Nggak tau, dia gila. Wong edan…,” jawab saya gemetar. Ibu itu ikutan bangkit, berdiri, dan terus mengacung-acungkan telunjuknya sambil tak henti mengeluarkan kata-kata kotor.<em> </em>Kali ini nggak cuma nama-nama binatang yang dikeluarkannya, tapi dia juga menuduh saya sebagai pelacur (maaf) yang sudah melayani semua pegawai kantor Gubernuran. Edan! </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Saya menjerit-jerit minta tolong. Saya <em>ngeri </em>membayangkan dia akan memburu saya kemudian mendorong tubuh saya keluar dari gerbong. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Suasana gerbong kelas bisnis itu makin rebut. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Ada</span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> yang ikutan curiga saya sudah berniat jahat pada Ibu Gila itu, ada juga yang berusaha melindungi saya dari serangan kata-kata kotornya. Ia terus mengumpat dan memaki. Matanya sadis, wajahnya menjadi ganas. Perempuan yang semula saya kagumi karena wajah keibuan dan keanggunannya itu tiba-tiba beringas seperti nenek sihir. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Nggak juga puas memaki dengan kata-kata kotor, ia lalu menuduh saya akan mencuri tasnya yang disimpan di kabin atas. “Itu </span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">kan</span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> yang dari tadi kamu incar? Dasar Bajingan!” Tangannya beralih menunjuk tas kantor yang ditaruh di kabin atas. Saya makin ketakutan dibuatnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Untung Kondektur segera datang, mencoba melerai Ibu itu. Ia meronta-ronta sambil menunjuk-nunjuk kearah saya dilengkapi dengan kata-kata kotor yang itu-itu juga. Kondektur segera meminta saya lari ke gerbong lain, ke restorasi. Ibu itu bersiap memburu tapi dihalangi Kondektur. Hanya tangannya yang sempat mendaratkan pukulan di punggung saya. Sialan!</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Suasana di gerbong restorasi segera riuh. Saya diinterogasi Kondektur dan Polisi kereta. Sesaat kemudian kedua petugas itu berdebat atas kekacauan yang ditimbulkan oleh penumpang. “Turunin aja di stasiun Jombang daripada makin ngacau dan bikin masalah,” ujar Pak Polisi. Pak Kondektur menolak, “soalnya dia penumpang resmi kereta ini.” Ia menunjukkan selembar kertas berisi data kursi penumpang. “Dia membeli tiket resmi atas nama Sri,” tambahnya lagi.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Setelah sekian lama berdebat, Kondektur berinisiatif mengecek keadaan si Mother FCKR itu. Kalau masih membahayakan, Polisi akan mengambil tindakan. Tak berapa lama Kondektur kembali dengan berita yang mengejutkan, “dia lagi tidur pulas,” lapornya. <em>“Marem bar ngonek-ngonekke njur nglepus,”</em> (Ia puas setelah memaki-maki lantas tertidur pulas) lanjutnya lagi. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Saya lega dan merasa berjasa telah menjadi obyek pelampiasan depresinya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=97</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tragedi Mei 98: Gagal Jadi Artis</title>
		<link>http://matatita.net/?p=91</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=91#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 08:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[security]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[
 

Setiap negeri ini mengenang duka kerusuhan Mei 98, saya juga terkenang pada kegagalan saya menjadi salah satu bintang televisi. Duh, apolitis banget ya. Ketika semua orang berduka karena tewasnya sejumlah aktivis mahasiswa Trisakti (12 Mei 1998) yang merebak menjadi amuk massa yang menghanguskan kompleks pertokoan di Jakarta (13 – 15 Mei 1998), saya tengah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Setiap negeri ini mengenang duka kerusuhan Mei 98, saya juga terkenang pada kegagalan saya menjadi salah satu bintang televisi. Duh, apolitis banget ya. Ketika semua orang berduka karena tewasnya sejumlah aktivis mahasiswa Trisakti (12 Mei 1998) yang merebak menjadi amuk </span><span lang="EN-GB">massa</span><span lang="EN-GB"> yang menghanguskan kompleks pertokoan di </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> (13 – 15 Mei 1998), saya tengah bersiap menjadi bintang tamu dalam event memeriahkan Piala Dunia yang akan ditayangkan Indosiar!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Ketika itu saya masih menjabat sebagai GKR Humas (sahabat-sahabat saya menjulukinya seperti itu) alias public relations kaos oblong Dagadu Djokdja. Pekerjaan saya antara lain mengurusi kerjasama dengan berbagai pihak termasuk promosi. Karena Dagadu tengah merilis sejumlah disain baru bertema plesetan Piala Dunia ’98, saya mendapat undangan dari Indosiar yang kebetulan juga membuat tayangan untuk memeriahkan Piala Dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Menurut skenario yang diberikan Indosiar, nanti akan ada petandingan bola “kecil-kecilan” antar klub yang ada di Jakarta. Salah satu kesebelasannya akan mengenakan kostum kaos plesetan Piala Dunia ala Dagadu Djokdja. Lalu saya akan diwawancarai Ricky Johanes tentang ide kreatif Dagadu melansir kaos plesetan tersebut. Waktu syuting disepakati tanggal 13 Mei 1998, sore hari di lapangan bola Senayan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="EN-GB">12 Mei 1998 </span></strong><span lang="EN-GB">saya berangkat ke </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> dengan kereta Dwipangga jam 22.00 WIB. Seharian itu sebenarnya saya cukup kalang kabut, karena 11 kaos untuk kostum yang harus saya bawa ke </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> belum selesai diproduksi. “Kalau malam ini nggak jadi, yaw is besok pagi berarti aku naik pesawat,” kata saya pada rekan di bagian produksi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Sekitar pukul 21.00 kaos edisi khusus mejeng di tivi itu akhirnya rampung juga. Saya nggak perlu menunda keberangkatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><br />
<strong>13 Mei, subuh, </strong>dari stasiun Gambir saya <em>mbajaj</em> ke Kramat Sentiong, ke sebuah rumah di gang sempit tempat saya pernah indekost di </span><span lang="EN-GB">sana</span><span lang="EN-GB"> awal tahun 1997. Meski cuma 3 bulan menjadi anak kost di </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> karena waktu itu ngotot menjadi wartawan adalah karir saya, rumah di Kramat Sentiong kemudian menjadi singgahan favorit saya kalau di Jakarta. Perkampungan yang padat dan kumuh </span><span lang="EN-GB">kan</span><span lang="EN-GB"> jarang-jarang saya temukan di Jogja. Jadi tinggal di rumah kost tersebut jauh lebih mengasyikkan ketimbang tinggal di kamar hotel.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><br />
Setelah leyeh-leyeh sambil bercengkerama dengan penghuni rumah yang sebagian besar orang Jogja, siang harinya saya meluncur ke Senayan dengan taksi. Ketika saya tiba di Senayan, sudah ada 2 kru kesebelasan yang siap berlaga. Juga kru Indosiar lengkap dengan perlatan syutingnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><br />
Tapi hingga jam 15.00 Ricky Jo, host acara ini tak kunjung datang. Ponselnya juga susah dihubungi. Kami menjadi gelisah. Apalagi bunyi sirine tedengar meraung-raung dan mobil-mobil tentara berseliweran melintas Senayan. Saat mengontak ke kantor Indosiar, kami mendapat kabar terjadi kerusuhan di seputar Daan Mogot. </span><span lang="EN-GB">Ada</span><span lang="EN-GB"> aksi baker-bakaran dan jalanan tertutup karena di sejumlah perempatan jalan juga ada aksi bakar ban mobil. Dari mereka pula kami mendengar kabar bahwa akses dari bandara ke </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> sudah terblokir. Bnayak pesawat delay dan banyak penumpang terjebak karena nggak bisa kembali ke </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB">. (Thank God, untung saya nggak jadi naik pesawat).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Berita lewat telepon itu membuat kami yang di lapangan kalut. Ketika hari mulau gelap, akhirnya kami diminta pulang dan menunggu kabar dari Indosiar kapan diadakan pengambilan gambarnya. “Moga-moga bisa kita lanjutkan besok sore,” kata salah satu kru yang mobilnya saya tumpangi hingga Plaza Senayan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Maksud hati pengin menghibur diri denga masuk mall. Tapi begitu turun dari mobil dan mendapati pintu mall yang tertutup rapat dan gelap, saya jadi bingung. “</span><span lang="EN-GB">Ada</span><span lang="EN-GB"> kerusuhan Mbak,” jelas Pak Satpam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"><span> </span><br />
Saya makin gelisah. Mana nggak ada taksi satu pun di parkiran. Terpaksalah saya berjalan kaki ke Sudirman, mencari halte untuk menunggu bus arah Thamrin. Lama menunggu, nggak ada yang lewat. Di halte mulai banyak orang-orang yang gelisah. Sebagian memutuskan berjalan kaki.</span></p>
<p>Untung sebelum saya berniat jalan, ada satu bus lewat. Segeralah saya meloncat dan turun di depan Sarinah, Thamrin. Dari Sarinah berganti bajaj, kembali ke Sentiong.</p>
<p><strong>14 Mei 1998.</strong> Menjelang siang saya mengontak kru Indosiar, menanyakan rencana syuting sore ini. Jadi nggak ya, smentara sepanjang pagi penyiar radio <span lang="EN-GB">Sonora</span><span lang="EN-GB"> tak henti mewartakan kondisi </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> yang makin kacau.</span></p>
<p>Ternyata memang acara dibatalkan mengingat kondisi yang tidak memungkinkan. Saya tercenung di rumah kos itu. Teman-temen di Dagadu menelpon, mengabari bahwa salah seorang kami yang lagi cuti ada yang tinggalnya deket Jogja Dept. Store yang dibakar. Saya disuruh mengontaknya. Tapi nggak berhasil alias tulalit. Bapak menelpon dari Jogja dan menyarankan saya untuk tidak keluar rumah, jangan pulang dulu ke Jogja sampai situasi tenang. &#8220;Bilang sama ibu kos, numpang ngekos lagi sebulan,&#8221; katanya penuh kawatir. Sementara saya ternganga. Masak iya saya nggak bakalan bisa keluar dari <span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB"> untuk waktu sebegitu lamanya? Duh, seminggu di </span><span lang="EN-GB">jakarta</span><span lang="EN-GB"> saja sudah bisa membuat saya eneg&#8230;.</span></p>
<p>Radio Sonoro terus mewartakan pantauan dari jalan raya diselingi berita keluiarga seperti rencana pembatalan pesta pernikahan, maupun pengumuman dari sekolah dan lembaga yang meliburkan siswa dan karyawan sampai pemberitahuan berikutnya.</p>
<p><strong>14 Mei sore, </strong>saya mulai kelaparan. Keluar dari rumah, mencari warung yang buka di gang dekat rel kereta. Lumayan, dapat makan lauk <span lang="EN-GB">tempe</span><span lang="EN-GB"> goreng kesukaan saya. Habis makan, tergoda melongok jalan Kramat Raya. Seperti apa sih kerusuhannya? Dengan sedikit was-was saya berjalan ke Kramat Raya. Di pertigaan dekat hotel Acacia, banyak orang berdiri di sepanjang Jl. Kramat Raya. Padahal jalanan sepi tak ada kendaraan yang melaju. Dan..heeiii&#8230;ada beberapa orang yang membawa troli penuh barang! Pasti barang hasil jarahan di Supermarket.</span></p>
<p><strong>14 Mei, malam hari, </strong>teman-teman di kos berdatangan dan mengeluh karena terpaksa jalan kaki dari kantor. Nggak ada kendaraan umum sama sekali.<br />
<strong><br />
15 Mei. </strong>Nggak inget lagi apa yang saya lakukan di kos. Mustinya hari ini saya sudah kembali ke Jogja. Tapi mana mungkin? Bahkan bajaj pun nggak banyak yang lewat di Sentiong.</p>
<p><strong>16 Mei. </strong>Tambah mumet.</p>
<p><strong>17 Mei.</strong> &#8220;Bagaimanapun, saya harus segera pulang.&#8221; Saya coba melongok ke Kramat Raya. Lumayan, sudah banyak mikrolet lewat. Berarti, sore ini saya bisa pulang.</p>
<p><strong>18 Mei 1998:</strong> alhamdulillah saya tiba di Jogja dengan selamat. Dan langsung sibuk menyiapkan <a href="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Reformasi/Chronicle/Kompas/May21/sult01.htm"><strong>aksi damai rakyat Jogja mendukung reformasi</strong></a><strong> 20 Mei 2008.</strong> Membikin spanduk untuk ramai-ramai jalan dari kampus mbulaksumur ke Alun-alun Lor.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=91</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>wisata entertain</title>
		<link>http://matatita.net/?p=87</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=87#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 08:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[tourism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[
 

Awal Februari 2001 saya memenangkan kompetisi penulisan artikel tentang perempuan berkarir yang diselenggarakan majalah (dulu masih tabloid) CITACINTA, salah satu majalah milik FEMINA grup.Tiga pemenang utamanya mendapat hadiah jalan-jalan ke Hong Kong yang disponsori oleh Hong Kong Tourism Board (HKTB). Senangnya!
Sekitar sebulan sebelum keberangkatan saya sudah mendapat kabar dari Pemimpin Redaksi yang menelpon langsung. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Awal Februari 2001 saya memenangkan kompetisi penulisan artikel tentang perempuan berkarir yang diselenggarakan majalah (dulu masih tabloid) <a href="http://www.citacinta.com/main/index.cfm">CITACINTA</a>, salah satu majalah milik FEMINA grup.Tiga pemenang utamanya mendapat hadiah jalan-jalan ke </span><span lang="EN-GB">Hong Kong</span><span lang="EN-GB"> yang disponsori oleh <a href="http://hkta.org/">Hong Kong Tourism Board (HKTB). </a>Senangnya!</span></p>
<p>Sekitar sebulan sebelum keberangkatan saya sudah mendapat kabar dari Pemimpin Redaksi yang menelpon langsung. &#8220;Sekedar memastikan dulu, passport-mu masih berlaku sampai 6 bulan ke depan <span lang="EN-GB">kan</span><span lang="EN-GB">?&#8221; tanyanya setelah saya histeris kegirangan karena memenangkan hadiah jalan-jalan itu. Setelah pemberitahuan kemenangan itu, saya diminta menunggu kabar kapan kami akan dijadwalkan berangkat. &#8220;Kayaknya kalo bisa menikmati malam tahun baru di </span><span lang="EN-GB">Hong Kong</span><span lang="EN-GB"> seru tuh, Mbak,&#8221; komentar saya. &#8220;Atau pas Chinese New Year.&#8221; Wah, makin banyak maunya. Tapi ternyata pihak CitaCinta juga nggak bisa menentukan kapan harus berangkat, alias nggak bisa milih hari, karena semua sudah diatur oleh agensi yang ditunjuk Hong Kong Tourism Board.</span></p>
<p><em>Ya wis, manut sing mbayari, sing penting dolan nang luar negeri</em>, batin saya yang tiap hari jadi kegirangan. Rasa girang itu pun tak luput saya wartakan pada teman-teman. &#8220;Kok Hong Kong sih&#8230;,&#8221; komentar salah seorang teman saya. Nadanya sedikit melecehkan, setidaknya yang tertangkap di kuping saya. &#8220;Dolan kok ke <span lang="EN-GB">Hong Kong</span><span lang="EN-GB">,&#8221; tambahnya lagi yang membuat saya nyengir.</span></p>
<p>Meskipun sedikit terganggu dengan “ejekan” itu, tapi kemudian saya mahfum. Pada saat itu, <span lang="EN-GB">Hong Kong</span><span lang="EN-GB"> masih lekat dengan image sebagai </span><span lang="EN-GB">kota</span><span lang="EN-GB"> kulakan alias belanja. Tempat para <em>cicik-cicik</em> dan <em>kokoh-kokoh</em> mencari aneka barang yang dapat dipasarkan di </span><span lang="EN-GB">Indonesia</span><span lang="EN-GB">. Dengan kata lain, liburan ke HK nggak ada bedanya dengan pergi ke Mangga Dua Jakarta. Duh!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Sebenarnya pada saat itu HKTA/HKTB tengah gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata </span><span lang="EN-GB">Hong  Kong</span><span lang="EN-GB"> lewat program <a href="http://www.discoverhongkong.com/">Discover Hong Kong</a>. Antara lain lewat kerjasama dengan media cetak dan elektronik di </span><span lang="EN-GB">Indonesia</span><span lang="EN-GB">. Selain mengundang para wartawan ke HK, media partner ini juga bisa mengadakan aneka kontes dengan hadiah wisata gratis ke HK. Liputannya kemudian dimuat di media terbitannya.</span></p>
<p>Mengikuti paket wisata gratis yang disponsori oleh HKTB ini memang menyenangkan, meskipun kurang menantang buat orang yang sudah biasa jalan sendiri seperti saya. Misi mempromosikan <span lang="EN-GB">Hong Kong</span><span lang="EN-GB"> merupakan jaminan service yang memuaskan bagi tamu yang diundangnya, apalagi kali ini yang diundang mewakili media. Kalau tidak, bisa jadi bumerang buat mereka sendiri. Media punya kekuatan untuk menulis apapun. Kalau tulisan hasil liputan itu nggak menarik dan pembaca jadi nggak tergoda untuk traveling ke </span><span lang="EN-GB">Hong Kong</span><span lang="EN-GB">, mereka bakal rugi habis-habisan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Karena itu, wisata promo ini membuat saya bagai putri duta wisata! Hotel tempat kami menginap berbintang </span><span lang="EN-GB">lima</span><span lang="EN-GB"> di kawasan Tsim Tsat Shui, beberapa langkah dari Victoria Park yang jadi landmark </span><span lang="EN-GB">kota</span><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB">Hong Kong</span><span lang="EN-GB"> itu. Tempat kami menyantap makan siang dan dinner adalah restoran berkelas seperti Peak Cafe, The Boathouse, Rainforest Cafe, dan lainnya. Malam hari kami juga diajak clubbing ke kawasan bule yang suasananya mirip di Kemang, </span><span lang="EN-GB">Jakarta</span><span lang="EN-GB">. Semua obyek wisata di Hong Kong juga kami jelajahi, dari Madame Tusssaud yang untuk menjangkaunya harus naik kereta dengan kemiringan 45 derajat sampai trekking melintasi bukit di Lamma Island. “Ini kampung halamannya Chow Yun Fat,” kata Pak Cliff, tour guide kami, yang kemudian bercerita panjang tentang si actor ganteng pemeran King Rama dalam Anna and The King.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Saya cuma manggut-manggut sambil meringis karena mulai lecet di kaki. Dalam hati rada menggerutu juga sih, kenapa nggak diinfoin sebelumnya bahwa mengunjungi pulau kecil tandus ini juga bagian dari paket wisata yang harus kami nikmati. Tahu gitu saya </span><span lang="EN-GB">kan</span><span lang="EN-GB"> sudah siap-siap pake sepatu yang tepat, bukannya pake sepatu pantopel kulit ini! “Tenang, siang nanti kita Spa,” hibur Pak Cliff yang melihat kami semua mengeluhkan kaki yang lecet dan mendadak pegel. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Berkat promosi wisata HK seperti itu, kini mereka sudah menuai hasilnya. Berlibur ke HK nggak hanya jadi tren di kalangan Cicik dan Kokoh. Liburan ke HK juga nggak harus disertai shopping, apalagi kulakan untuk dijual lagi di Indonesia. Sekarang ini, kalau saya perhatikan, HK merupakan salah satu destinasi wisata entertain di Asia. Tempat favorit bagi sejumlah perusahaan di </span><span lang="EN-GB">Indonesia</span><span lang="EN-GB"> yang ingin mengentertain karyawan atau kelega bisnisnya. Alasannya sederhana: deket, tanpa visa, kurs dollarnya murah, dan keren. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Sekitar dua tahun lalu, adik ipar saya diajakin meeting ke HK oleh perusahaannya. Setelah dari HK, ia sekalian lanjut ke </span><span lang="EN-GB">Beijing</span><span lang="EN-GB">. Lalu akhir tahun 2008 kemarin, gantian sepupu saya yang dientertain perusahaannya ke HK selama sepekan. Empat hari di HK dan dua hari di </span><span lang="EN-GB">Macau</span><span lang="EN-GB">. Saya sendiri pernah berencana mengentertain relasi ke HK. Setelah menyepakati hari keberangkatan dan mengatur cuti, tiba-tiba Jogja dilanda gempa dahsyat 27 Mei 2006 yang meluluhlantakkan Jogja Selatan. Meskipun saya dan keluarga aman-aman saja, tapi semua warga Jogja berduka dan berswadaya untuk kembali memulihkan kondisi dan membangkitkan semangat bagi mereka yang rumahnya rata tanah. Agenda wisata entertain itu pun dibatalkan dengan permakluman. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Gantinya, beberapa bulan kemudian, saya malah dientertain perusahaan relasi saya ke </span><span lang="EN-GB">Singapore</span><span lang="EN-GB">!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="EN-GB">TIP on TRIP</span></strong></p>
<ul style="margin-top: 0in;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Namanya juga wisata entertain dan gratisan, mau tak mau harus      tunduk pada itinerary yang disusun travel agent. Biasanya, paket wisata      seperti ini melibatkan travel agent biar lebih praktis, nggak ngrepotin,      dan harganya juga sepadan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Meskipun mungkin nggak sesuai dengan tempat yang ingin kita      datengin, tapi demi menghormati perusahaan pemberi paket wisata entertain      gratisan itu, nggak ada salahnya kita nurut. Malam hari atau saat ada      free-time, manfaatkan waktu untuk jalan sesuai selera.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Saat berada di obyek wisata dan diberi kesempatan jalan hingga      waktu tertentu, usahakan tepat waktu untuk kembali ke bus. Karena begitu      ada satu orang yang telat, rombongan satu bus lainnya terpaksa harus      nunggu –tentu saja sambil ngomel-ngomel- dan mengacaukan jadwal kunjungan      ke obyek wisata lain. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=87</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Balap &#038; Bola</title>
		<link>http://matatita.net/?p=108</link>
		<comments>http://matatita.net/?p=108#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 07:44:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matatita</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[backpacking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matatita.net/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[



Tahun 2005 lalu, saya &#8220;terpaksa&#8221; nonton F1 di Sepang - Malaysia. Saya katakan &#8220;terpaksa&#8221; karena memang pada dasarnya saya kurang tertarik dengan balap jet darat ini. Tapi saya nggak bisa menolak tawaran gratis dari partner bisnis saya. Bodoh banget kalau saya menolak undangan jalan-jalan gratis ke Malaysia.
Jadilah saya piknik ke Malaysia tanpa dibekali wawasan tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Tahun 2005 lalu, saya &#8220;terpaksa&#8221; nonton <a href="http://www.f1-malaysia.com/"><strong>F1 di Sepang - Malaysia.</strong></a> Saya katakan &#8220;terpaksa&#8221; karena memang pada dasarnya saya kurang tertarik dengan balap jet darat ini. Tapi saya nggak bisa menolak tawaran gratis dari partner bisnis saya. Bodoh banget kalau saya menolak undangan jalan-jalan gratis ke </span><span lang="EN-GB">Malaysia</span><span lang="EN-GB">.</span></p>
<p>Jadilah saya pikni<a href="http://suluhpratita.multiply.com/photos/hi-res/upload/R7KTNgoKCtkAAF@0A2A1"></a>k ke <span lang="EN-GB">Malaysia</span><span lang="EN-GB"> tanpa dibekali wawasan tentang F1. Saya sudah berusaha membeli majalah F1 supaya &#8220;menguasai </span><span lang="EN-GB">medan</span><span lang="EN-GB">&#8220;. Tapi nyatanya, dalam satu rombongan F1 Mania tersebut, barangkali saya adalah satu-satunya yang nggak ngerti seluk beluk balapan ini. Ah, jangankan pertandingannya, nama-nama para pembalapnya saja saya nggak sanggup menghapal. Hanya b<a href="http://suluhpratita.multiply.com/photos/hi-res/upload/R7KTNgoKCtkAAF@0A2A1"></a>eberapa nama yang memang sangat populer saja yang saya ketahui.</span></p>
<p>Meski begitu saya berusaha menikmati perjalanan dan mengamati dari sisi lain. Saya berusaha tidak mengeluh ketika harus berjalan kaki dalam panas terik yang menyengat, dari lapangan parkir menuju Sirkuit Sepang untuk menonton kualifikasi sehari sebelum hari tanding. Jarak antara parkiran dan pintu masuk arena lumayan jauh lho, sepertinya lebih dari 1 km. Mana nggak ada pepohonan buat berteduh.</p>
<p>Saat di arena, saya memilih menonton pameran dan mengamati pernak-pernik merchandise yang nggak terbeli. Muahaaallnnyaaa&#8230;.! Saya juga merasa sedikit terhibur dengan ikut games atau mengisi kuesioner kecil dan mendapat hadiah merchandise topi. Selebihnya saya banyak mengamati orang yang lalu-lalang dari berbagai negara dengan aneka atribut supporter untuk memperlihatkan dukungan mereka. Malah, saya melihat bule berkursi roda yang sangat heboh mendukung jagoannya. Niat banget yak!</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Buat saya, apa yang saya lihat dan rasakan selama nonton kualifikasi di sirkuit Sepang ini sudah cukup. Karena kalau diterusin akan menyiksa, karena saya nggak ngerti dan ngefans F1. Karena itu saya nggak berminat mengulang penderitaan batin saat berada di sirkuit itu untuk kedua kalinya. Esok paginya, pada hari tanding, di mana semua peserta harus berangkat pagi-pagi jam 6 dan sarapan dalam kardus, saya masih terlelap dalam tidur. Sejak kemarin saya sudah meninggalkan pesan untuk tidak dibangunkan. &#8220;Ntar saya nyusul naik kereta, udah ngerti jalurnya kok,&#8221; kilah saya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Pagi itu, sambil menikmati sarapan sendirian, saya justru menikmati kemerdekaan saya. Nggak ada yang ngoyak-oyak untuk segera masuk ke bus dan nggak ada obrolan jaka sembung tentang F1. Hari ini di saat semua peserta rombongan tengah berdesak-desakan masuk ke arena, saya tengah menyusun itinerary menysuri </span><span lang="EN-GB">kota</span><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB">Kuala Lumpur</span><span lang="EN-GB"> sendiri saja. Jauh lebih menyenangkan daripada berpanas-panas di atas bukit gundul karena tiket yang kami kantongi adalah untuk kelas Hillstand.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Kali lain saya mendapat kesempatan travelling nonton bareng yang lagi-lagi nggak saya sukai: nonton bola di </span><span lang="EN-GB">Manchester</span><span lang="EN-GB">. “Sumpah, saya nggak ngerti bola. Tapi berhubung saya suka travelling, ya ayo aja!” kata saya pada relasi yang menawari saya untuk menggantikan posisi suaminya yang nggak bisa menemani perjalanan dinasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Relasi saya itu ditunjuk perusahaannya untuk mendampingi 3 pemenang kuis Nonton Bareng pertandingan Manchester United dan </span><span lang="EN-GB">Manchester</span><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB">City</span><span lang="EN-GB"> langsung di Old Trafford, Manchester Inggris. “Tapi jangan paksa saya nonton bola ya. Saya mau jalan-jalan sendiri,” pesan saya padanya. “Tapi masak kamu nggak pengin foto di depan Old Trafford yang sudah jadi ikon </span><span lang="EN-GB">Manchester</span><span lang="EN-GB"> itu?” Tanyanya yang langsung saya jawab dengan gelengan kepala kuat-kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Teman-teman saya yang penggila bola, apalagi yang ngefans berat sama ManU, langsung mencak-mencak sirik. Apalagi saat itu adalah pertandingan Manchester Derby, yaitu istilah yang digunakan untuk pertandingan antara Manchester United dan </span><span lang="EN-GB">Manchester</span><span lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB">City</span><span lang="EN-GB">. Pertandingan Derby ini biasanya seru banget. Orang-orang </span><span lang="EN-GB">Manchester</span><span lang="EN-GB"> sendiri banyak yang bela-belain untuk menontonnya. Kalaupun nggak nonton langsung, mereka akan memadati café. Saya sempat melihat aksi gempita mereka mengerubuti sebuah café di City Centre. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Tapi saya nggak ingin membuang-buang waktu dengan sesuatu yang nggak saya pahami dan nggak membanggakan buat saya. Jadilah seharian itu, sambil nungguin relasi saya yang lagi dinas nonton tanding antara ManU dan ManCi, saya ketemuan sama teman-teman </span><span lang="EN-GB">Indonesia</span><span lang="EN-GB"> yang sedang kuliah di </span><span lang="EN-GB">Manchester</span><span lang="EN-GB"> dan kota-kota lain di sekitarnya. Mereka adalah kawan-kawan saya yang hebat dan tentu saja cerdas karena mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke Inggris. Bikin saya ngiri dalam artian positif. Saya termasuk orang yang selalu bermimpi suatu ketika bisa mendapatkan beasiswa untuk studi di luar negeri. Negeri yang saya angankan untuk belajar adala Belanda, negeri yang cocok untuk belajar ilmu budaya, bidang yang saya minati sejak kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Seorang teman yang pintar membaca garis tangan secara iseng pernah saya tanyai, “kira-kira aku bisa dapat beasiswa ke Belanda nggak ya?”. Lalu ia mencermati garis tangan saya dengan serius dan katanya, “Wah, ora je. Peluangmu kuliah ke luar negeri tipis,” jawabnya membuat saya mencak-mencak. “Ramalan nggak mutu, nggak berpihak pada klien!” Teriak saya. “Tapi kalau cuma jalan-jalan ke luar negeri, tanpa sekolah, peluangmu malah terus ada,” katanya menghibur. Dan saya terhibur juga karenanya…:D </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="EN-GB">TIP on TRIP</span></strong></p>
<ul style="margin-top: 0in;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Kalau nggak suka balap atau bola dan nggak terbiasa dengan      independent travelling, lebih baik jangan maksain diri ikutan paket nonton      bareng itu. Karena Anda hanya akan jadi orang paling bodoh di antara      rombongan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Buat yang suka balap dan bola, jika pengin ikutan paket nonton      bareng jangan semata-mata tergoda harga paket yang murah. Yang lebih      penting justru perhatikan tiket kelas apa yang akan sudah termasuk dalam      paket tersebut. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Kelas tiket biasanya menggunakan istilah yang nggak kita pahami      dan tiap Negara punya kategori tiket yang berbeda. Misalnya di Sepang ada      tiket Hillstand, Gold East, Platinum West, dll. Cari tahu lewat website      dulu, karena posisi tempat duduk itu akan menentukan kenyamanan dalam      menonton balap.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">Tahu nggak, teman serombongan saya, sepasang suami istri borju      (terlihat dari penampilannya yang branded) kecewa berat setelah tahu bahwa      tiket Hillstand yang dikantonginya membuatnya berpanas-panas di atas bukit      gundul. Padahal, koceknya cukup mampu untuk membayar tiket di kelas      Platinum yang ada atapnya itu.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matatita.net/?feed=rss2&amp;p=108</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
